Translate

Tampilkan postingan dengan label Bahasa dan Sastra Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa dan Sastra Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 September 2014

Nasionalisme dalam Novel 5 cm Karya Donny Dhirgantoro Analisis Strukturalisme

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan sebuah negara yang sangat menarik karena faktorkeanekaragamannya, mulai darisuku, budaya, agama, bahasa, warna kulit, dan sebagainya. Sebagai sebuah negara, keanekaragaman Indonesia dapat diilustrasikan dengan bentuk tanganmanusia yang memiliki lima jari. Kelima jarimanusiamemiliki bentuk yang berbeda-beda,tetapi memiliki fungsi yang sama, yaitu mempermudahmanusia dalammenyelesaikan suatupekerjaan.Lima jari manusia akan berfungsi secara maksimal apabila kelima jari tersebutbersatu danbekerja sama. Begitu juga dengan keanekaragaman yang ada di negara Indonesia, walaupun berbeda-beda suku, budaya, agama,bahasa, warna kulit, dan sebagainya, warganegaraIndonesia harustetap bersatu dan bekerja sama untuk mewujudkan sikap kebangsaanyang kuat.
Nasionalisme berasal dari katanation yang berarti negaraatau bangsa, ditambahakhiranisme yang berarti:(a) suatu sikap ingin mendirikan negara bagi bangsanya sesuaidengan paham/ideologinya, (b) suatu sikap ingin membela tanah air/negara dari penguasaandan penjajahan bangsa asing, (Budiyono, 2007: 208). Menurut Smith (2003: 10) nasionalismeadalah suatu ideologi yang meletakkan bangsa di pusat masalahnya dan berupayamempertinggi keberadaannya. Nasionalisme sebagai manifestasi kecintaan dan kesetiaantertinggi kepada tanah air, negara, dan bangsamerupakan modal dasar bagi pembentukan negara dan karakter bangsa.
Kata sya’ab, qaum, ummah banyak digunakan Alquran untuk merujuk maknabangsa. Kata sya’ab yang menjadi kata tunggaldarisyu’ubantercantumdalam Alquran padasuratAl Hujurat ayat 13 yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:
”Wahai manusia kamisesungguhnya telah menciptakan kamu dari seseorang laki-laki dan seorang perempuan, dan kamimenjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantarakamu disisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah MahaMengetahui lagiMaha Mengenal”.
Bangsa dalam pengertian politik menurut Dault(2005: 2) adalah masyarakat dalam suatu daerah yang sama dan tunduk kepada kedaulatan negaranya sebagai suatu kekuasaan tertinggi ke luar dan ke dalam.
Semangat kebangsaan atau nasionalisme dari suatu bangsa tidak dapat dilepaskandari hasrat bangsa itu dalammewujudkan arah dan tujuan yang hendak dicapai oleh bangsa tersebut. Nasionalisme merupakan sikap politik dan sosial dari kelompok masyarakat yang mempunyai kesamaan kebudayaan, bahasa, dan wilayah, serta kesamaan cita-cita, dan tujuan. Hal itu diutarakan pula oleh Soekarno (1964: 3) yang mengatakan bahwa nasionalisme adalah suatu iktikad; suatu keinsyafan rakyat bahwa rakyat itu ada satu golongan, satu bangsa.
Menurut Soekarno (1964: 5) semangat kebangsaan atau nasionalisme secara tersirat telah lahir sejak masa Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Semangat seperti itu terbelah-belah pada saat Indonesia dijajah oleh Belanda. Jiwa kebangsaan hanya terlihat sebagai jiwa persatuan satu daerah atau satu kepulauan. Semangat kebangsaan itu secara keseluruhan mempunyai satu tujuan, yaitu mengusir penjajah dari negeri tumpah darah kita ini, Indonesia. Akan tetapi, wujud nasionalisme seperti itu bersifat lokal. Rasa kebangsaan secara nyata baru dilakukan pada tahun 1908, yaitu Budi Utomo. Bentuk dan arah nasionalisme kita pada saat itu didasari oleh kesatuan wilayah, kesatuan keinginan, kesamaan nasib, dan kesamaan hal-ihwal. Kesamaan itu diarahkan pada usaha mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Itulah yang terlihat dalam nasionalisme sebelum kemerdekaan Indonesia.
Bagaimana bentuk semangat kebangsaan atau nasionalisme pada masa kini? Tampaknya nasionalisme telah mengalami pergeseran makna. Barangkali rasa kebangsaan kita kini telah ternodai atau terancam oleh berbagai faktor dari luar dan dari dalam negeri sendiri. Apakah memang dalam bentuk dan arah seperti sekarang inikah nasionalisme yang kita idamkan untuk membawa bangsa ini ke arah masyarakat yang adil dan makmur?
Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai-nilai Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945 yang diarahkan agar bangsa Indonesia senantiasa menempatkan persatuan kesatuan, kepentingan, keselamatan bangsa, dan negara di atas kepentingan pribadi atau kepentingan golongan, menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara, bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak merasa rendah diri, mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama bangsa, menumbuhkan sikap saling mencintai manusia, mengembangkan sikap tenggang rasa dan tidak semena-mena terhadap orang lain, gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, senantiasa menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, berani membela kebenaran dan keadilan, merasa bahwa bangsa Indonesia merupakan bagian dari seluruh umat manusia, dan menganggap pentingnya sikap saling menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.
Karya sastra adalah sebuah hasil ciptaan manusia. Sastra tumbuh dan berkembang karena peranan manusia. Sebuah karya sastra pada dasarnya berisi tentang permasalahan yang melingkupi kehidupan masyarakat, termasuk persoalan-persoalan sosial. Nasionalisme merupakan bagian daripersoalan sosial, karenamenyangkut tentang kehidupan masyarakatdalam berbangsa dan bernegara. Masalah nasionalisme sering diangkat dalam cerita yangberbentuk novel, salah satunya adalah novel5 cm.
Novel5 cm.adalah novel karya Donny Dhirgantoro, yang diterbitkan oleh Grasindopada tahun 2005. Novel ini menceritakan tentang perjalanan lima orang bersahabat yakniArial, Riani,Zafran, Ian, dan Genta. Novel ini mengajarkan tentang harapan, impian, tekad,cinta, dan persahabatan. Novel inimencetak rekor buku laris di Gramedia Bookstoreselama dua tahun berturut-turut. Pada tahun 2012, novel ini diadaptasi menjadisebuah film dengan judul yang sama5 cm.
Novel5 cm. adalah novel yangmengangkat nilai nasionalisme. Dalam noveltersebut terdapat nilainasionalisme yang dapat menjadi titik balik bagi segenap pemudaIndonesia untuk kembalimenancapkan nilai nasionalismedi dalam benak dan hatimereka,yang dewasa ini mungkin terkontaminasi oleh pengaruh-pengaruh yang datangnyadari luarmaupun dari dalam negerinya sendiri.
Nasionalisme kita seakan muncul dengan paksaan yaitu ketika ada serangan atauadaancaman dari pihak luar, kita baru bersatu teguh mengganyang negarayang bersangkutan.Nasionalisme bangsa Indonesia terjadi pasang surut akibat pengaruh global yang telah mendarah daging dalam jiwa generasi Indonesia. Dalam kenyataannya, kini rasa nasionalismekultural dan politik sudah mengkhawatirkan dalam kehidupan keseharian kita.
Nasionalisme merupakan suatu paham yang berkaitan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (nation) dengan mewujudkan satu konsepidentitas bersama untuk sekelompok manusia. Permasalahan yang menarik untukdikaji dan diteliti dalam penelitianini adalah nasionalisme yang terdapatdalam novel5 cm.
1.2  Rumusan Masalah
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang terarah, maka diperlukan suatu rumusanmasalah. Permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
Bagaimanakah strukturyang membangun nilainasionalisme dalam novel5 cm. karya Donny Dhirgantoro?
Bagaimanakah bentuk nasionalisme yang terdapat dalam novel5 cm.karyaDonny Dhirgantoro
1.3  Tujuan Penelitian
Tujuan suatu penelitian haruslah jelas mengingat penelitian harus mempunyai arah dan tujuan yang tepat. Adapun tujuan penelitian ini adalah :
  1. Menganalisis struktur yang membangun nilainasionalisme dalam novel5 cm.karya Donny Dhirgantoro.
  2. Menganalisis bentuk nasionalisme yang terdapat dalam novel5 cm. karya DonnyDhirgantoro.

1.4  Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
  1. Memperluas khasanah ilmu pengetahuan terutama bidang bahasa dan sastra Indonesia, khususnya dalammenganalisis novel dengan teori strukturalisme.
  2. Memahamimakna nasionalisme secara lebih luas.
  3. Memberikan masukan kepada mahasiswa untuk mengkaji dan menelaah novel.
  4. Menambahreferensi danmembantu pembaca dalammemahamimakna yangterdapat dalam karyasastra.


Skripsi ini terdiri dari BAB I sampai dengan BAB V Full. Untuk pengunjung blog saya bisa ini yang ingin mendapatkan contoh skripsi ini sebagai bahan pembelajaran maupun referensi dalam  menyusun skripsi anda dapat menghubungi pengelola blog ini.

Motivasi dan Pesan Moral Yang Terkandung Dalam Novel Sepatu Dahlan Iskan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Banyak pelajaran tentang pengalaman hidup yang dapat menginspirasi lahirnya sebuah karya sastra yang akhirnya dijadikan sebagai media untuk menyampaikan aspirasi, gagasan, ide, atau nasihat (petuah). Pada akhirnya berguna apabila diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sastra merupakan media pembelajaran yang banyak disukai orang untuk menyampaikan nilai atau “pesan moral” kepada orang lain (Kurniawan 2012: 2).
Sastra mempunyai fungsi sosial atau “manfaat” yang tidak sepenuhnya bersifat pribadi. Jadi, permasalahan studi sastra menyiratkan atau merupakan masalah sosial: masalah tradisi, konvensi, norma, jenis sastra (genre), mitos, simbol (Wellek dan Austin 1989: 109). Menurut Watt (dalam Endraswara 2011:22) karya sastra yang baik memberikan fungsi sebagai: (1) pleasing, yaitu kenikmatan hiburan. Karya sastra dipandang sebagai pengatur irama hidup hingga menyeimbangkan rasa. (2) instructing, artinya memberikan ajaran tertentu, yang menggugah semangat hidup. Karya sastra diharapkan mencerminkan aspek didaktif. Karya sastra telah menawarkan ajaran moral, kesadaran moral yang menjadi unsur penting dalam karya sastra.
Pesan moral dalam karya sastra adalah amanat yang ingin disampaikan kepada pembaca mengenai baik buruk perilaku manusia yang hidup dalam masyarakat dengan tujuan memberikan gambaran mengenai perilaku positif. Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin disampaikan kepada pembaca (Nurgiyantoro 1995: 323).
Moral menjadi tolok ukur dalam hal menilai perilaku seseorang. Ketika seseorang memiliki moral yang baik tentunya akan dapat memilah mana kelakuan yang pantas mana yang tidak pantas, mana yang baik mana yang benar atau mana yang etis dan tidak etis. Kemampuan seperti ini tentunya sangat penting ditumbuhkembangkan dalam setiap personaliti manusia.
Perkembangan zaman tentu juga turut membawa perubahan. Perubahan dari berbagai sisi dengan segala efek positif-negatif, diantaranya pergeseran nilai-nilai moral dalam masyarakat. Kecenderungan dalam membenarkan yang biasa sudah menjadi realitas kehidupan sosial, padahal seharusnya konsep yang dianut adalah membiasakan yang benar.
Sebagai negara yang berbudaya yang sangat menjunjung tinggi moralitas, keadaan ini tentunya menjadi masalah bersama. Berbagai upaya dilakukan dalam hal memperkenalkan kembali moralitas ini pada individu, mulai dari didikan orang tua, sekolah, hingga karya sastra juga turut memberikan sumbangsih melalui novel-novel yang sarat akan pesan moral.
Keadaan ini semakin memperkuat peneliti untuk mengangkat judul “Pesan Moral dan Motivasi dalam Novel Sepatu Dahlan Karya Khrisna Pabichara: Tinjauan Sosiologi Sastra”. Pesan moral dan motivasi merupakan dua hal yang berkaitan. Keduanya berkaitan karena sama-sama memberikan efek positif dalam hal berbenah diri. Itu sebabnya, ketika sebuah novel sarat akan pesan moral maka novel tersebut juga memotivasi.
G.R Terry (dalam Malayu 2005: 145) mengemukakan bahwa motivasi adalah keinginan yang terdapat pada diri seseorang individu yang merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan. Motivasi itu tampak dalam dua segi yang berbeda, yaitu dilihat dari segi aktif dan dinamis, motivasi tampak sebagai suatu usaha positif dalam menggerakkan, mengerahkan, dan mengarahkan daya serta potensi tenaga kerja, agar secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang ditetapkan sebelumnya. Sedangkan dilihat dari segi pasif dan statis, motivasi akan tampak sebagai kebutuhan sekaligus sebagai perangsang untuk dapat menggerakkan, mengerahkan, dan mengarahkan potensi serta daya kerja manusia tersebut ke arah yang diinginkan.
Wiyono (dalam Endaswara 2011: 111) menyatakan bahwa sastra dapat menjadi alat pendidikan agama dan selanjutnya juga menjadi alat pendidikan moral. Moral adalah bagian hidup bermasyarakat. Pahlawan rakyat dan tokoh-tokoh sering membawa pesan ajaran moral. Itu sebabnya peneliti akan menelaah sejauh mana isi novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara ini mengandung pesan moral dan motivasi.
Sepatu Dahlan bercerita tentang tokoh Dahlan yang meski di usia muda harus menghadapi kerasnya hidup karena permasalahan ekonomi. Sepatu dan sepeda adalah barang mewah yang begitu diinginkan Dahlan karena dengan dua benda itu akan lebih mudah bagi Dahlan untuk menjemput ilmu di sekolah dan tidak perlu berjalan kaki hingga belasan kilometer. Memperbaiki pendidikan adalah cara paling tepat untuk terlepas dari belitan kemiskinan, itulah yang sekiranya ada di benak Dahlan. Novel Sepatu Dahlan merupakan objek penelitian ini yang dapat dikaji dari tinjauan sosiologi sastra.
Hakikat sastra dan sosiologi adalah dua ilmu yang tidak terlepas dari peran manusia dan kehidupannya. Keduanya memiliki kesamaan karena memiliki objek yang sama, yaitu manusia dan masyarakat (Ratna 2003: 2). Akan tetapi berbeda dalam hal penggarapannya, sosiologi lebih mengarah kepada faktual dan objektif sedangkan sastra lebih dominan pada rekaan atau imajinasi dan cenderung bersifat subjektif. Selengkapnya dalam buku Paradigma Sosiologi Sastra dituliskan sebagai berikut:
Secara institusional objek sosiologi dan sastra adalah manusia dalam masyarakat, sedangkan objek ilmu-ilmu kealaman adalah gejala-gejala alam. Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. Perbedaannya, apabila sosiolog melukiskan kehidupan manusia dan masyarakat melalui analisis ilmiah dan objektif, sastrawan mengungkapkannya melalui emosi, secara subjektif dan evaluatif. Sastra juga memanfaatkan pikiran, intelektualitas, tetapi tetap didominasi oleh emosionalitas (Ratna 2003:4).
Objek yang dikaji sosiologi dan sastra adalah sama, maka lahirlah sosiologi sastra yang merupakan interdisiplin antara ilmu sosiologi dan sastra. Karya sastra yang selalu bersinggungan dengan kehidupan sosial bercermin pada zaman dengan segala aktivitas masyarakat yang imajiner di dalamnya merupakan representasi dari kehidupan nyata yang digabung dengan proses kreatif pengarang, maka sosiologi sastra membantu karya sastra untuk dinilai, dianalisis dan diinterpretasikan dengan konsep dan teori sosiologis.
Alasan lain yang menguatkan novel Sepatu Dahlan ini dipilih menjadi bahan penelitian adalah tanggapan yang luar biasa dari pembaca sehingga novel ini masuk dalam jajaran novel Best Seller, banyak komentar positif dari orang-orang yang dari segi intelligent sudah tidak diragukan lagi, sebut saja Andy F. Noya, host Kick Andy talk show yang selalu menghadirkan bintang tamu berprestasi dan menginspirasi, “....membangkitkan semangat setiap orang yang membaca...”. Komentar-komentar positif tersebut menjadikan peneliti semakin tertarik untuk membahas sejauh mana novel ini memberikan pesan moral dan motivasi.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:
  1. Apa sajakah pesan moral yang disampaikan dalam novel Sepatu Dahlan?
  2. Bagaimanakah pesan moral disampaikan dalam novel Sepatu Dahlan?
  3. Apa sajakah motivasi yang terkandung dalam novel Sepatu Dahlan?
  4. Bagaimanakah motivasi disampaikan dalam novel Sepatu Dahlan?

1.3  Batasan Masalah
Agar penelitian ini terarah dan mencapai tujuan dengan baik maka diperlukan batasan masalah. Peneliti membatasi masalah hanya pada pesan moral dan motivasi yang mencakup pada: kejujuran, ketaatan dalam beribadah, ketaatan pada orang tua, loyalitas dalam berteman, pepatah yang memotivasi, motivasi dari teman, motivasi dari keluarga
1.4  Tujuan Penelitian
  1. Menguraikan pesan moral yang terkandung dalam novel Sepatu Dahlan.
  2. Mendeskripsikan pesan moral yang terkandung dalam novel Sepatu Dahlan.
  3. Menguraikan motivasi yang terkandung dalam novel Sepatu Dahlan
  4. Mendeskripsikan motivasi yang terkandung dalam novel Sepatu Dahlan.

1.5  Manfaat Penelitian
Manfaat Teoretis
  1. Dapat memberikan kontribusi positif terhadap ilmu pengetahuan di bidang sastra, khususnya pada interdisiplin ilmu sosiologi sastra dalam hal menggali pesan moral serta motivasi yang terkandung dalam sebuah novel.
  2. Memperkaya khasanah sastra kepada pembaca mengenai studi sastra Indonesia tepatnya melalui pendekatan sosiologi sastra.

Manfaat Praktis
  1. Menegaskan kepada pembaca bahwa karya sastra tidak luput dari pengajaran tentang segala aspek kehidupan, diantaranya mengenai pesan moral dan motivasi yang terkandung dalam novel Sepatu Dahlan.
  2. Membantu para pembaca untuk memahami isi dari novel Sepatu Dahlan khususnya dalam hal pesan moral dan motivasi yang tidak semua tertulis secara eksplisit, melainkan memerlukan pemahaman dalam menganalisis isi ceritanya.


Skripsi ini terdiri dari BAB I sampai dengan BAB V Full. Untuk pengunjung blog saya bisa ini yang ingin mendapatkan contoh skripsi ini sebagai bahan pembelajaran maupun referensi dalam  menyusun skripsi anda dapat menghubungi pengelola blog ini.

Konjungsi Dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Karya sastra merupakan seni yang mengungkapkan  berbagai kehidupan manusia dalam bentuk tulisan, yang memuat berbagai peristiwa, penderitaan, perjuangan, kasih sayang, nafsu, kebencian, dan segala yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.   Berbagai peristiwa yang dialami oleh manusia sebagai pelajaran bagi kita semua  agar dapat berpikir menjadi lebih dewasa dan luas bahwa  manusia itu memiliki kekurangan dan kelebihan serta lebih bijaksana dalam segala perbuatan.
Karya sastra diciptakan oleh pengarang atau sastrawan untuk dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat.  Sastrawan  sebagai pencipta karya sastra jelas mengharapkan karya-karyanya dapat dinikmati oleh pembaca. Sastrawan tidak hanya bermaksud agar pembaca mengetahui apa yang ia sampaikan lewat karyanya, tetapi pengarang juga ingin mengajak pembaca ikut merasakan apa yang dirasakan oleh pengarang. Atmazaki (1990-24) mengatakan bahwa karya sastra diciptakan untuk dibaca  dan dinikmati.  Sastra tidaklah sekedar permainan bahasa yang dikomunikasikan pengarang melalui tulisannya, tetapi mengandung makna lebih. Sastra mengandung nilai-nilai yang memperkaya rohani dan meningkatkan mutu kehidupan. Jadi, pengarang bukan sekedar memindahkan apa yang disaksikan dalam kehidupan ini dalam karyanya, melainkan memberikan isi dan menafsirkan apa yang menjadi keyakinan batinnya. Salah satu hasil cipta sastrawan adalah novel. Sebagai bentuk karya sastra, novel merupakan hasil kreatif dan imajinatif pengarang yang berisi tentang kehidupan baik fisik maupun fisikis, jasmani maupun rohani manusia.
Berbagai peristiwa itu disajikan oleh pengarang ke dalam sebuah novel. novel merupakan cerita yang berbentuk prosa yang menceritakan kehidupan manusia seperti halnya cerpen dan roman, hanya novel lebih kompleks dari cerpen dan lebih singkat dari pada roman.   Kosasih (2009:92) mengatakan bahwa novel merupakan cetusan pemikiran dan imajinasi  pengarangnya. novel  tidak bisa lepas dari pengaruh adat dan kebiasaan masyarakat ketika novel itu diciptakan. Budaya suatu masyarakat akan tergambar di dalamnya.
Novel ditulis dalam bentuk wacana dengan menggunakan bahasa, baik bahasa daerah maupun bahasa Indonesia. Wacana itu sendiri dapat terbentuk dengan adanya unsur-unsur pendukungnya. Unsur-unsur pendukung sebuah wacana antara lain kata, frase, klausa, kalimat, dan paragraf.  Semua ini merupakan wadah untuk menuangkan ide pengarang.
Untuk menghubungkan kata dengan kata, frase dengan frase kalimat pertama dengan kalimat kedua diperlukan kata sambung atau disebut dengan konjungsi. Sekawan (2007:137) mengatakan bahwa konjungsi ialah kata yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata,  kalimat dengan kalimat, frase dengan frase,  dan paragraf dengan paragraf. Kalimat yang terdapat dalam wacana tidak hanya digabungkan begitu saja tanpa mempertimbangkan antar hubungannya tetapi wacana yang disajikan sebagai wadah penyampaian pikiran atau ide dibentuk oleh kalimat-kalimat yang saling berhubungan dan disusun secara terpadu, sehingga menghasilkan tuturan yang jelas. Untuk menghasilkan wacana yang saling berhubungan dan padu maka diperlukan konjungsi.
Ramlan (1985: 61) mengatakan bahwa konjungsi berguna untuk menghubungkan satuan-satuan gramatikal, sehingga menghasilkan satuan gramatikal yang lebih besar. Satuan gramatikal tersebut mungkin berupa kalimat, klausa, frase, dan mungkin juga berupa kata. Bahasa dalam novel Laskar Pelangi di dalamnya juga terdapat konjungsi. Konjungsi ini berfungsi untuk menghubungkan satuan-satuan gramatik sehingga pada akhirnya terbentuk sebuah novel. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada penggalan novel di bawah ini.
“Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah dan seorang wanita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari.atau Bu Mus. Seperti ayahku, mereka berdua  tersenyum.    Namun, senyum Ibu Mus adalah senyum getir yang dipaksakan karena tampak jelas beliau sedang cemas” (LP : 2).
Konjungsi dan merupakan konjungsi koordinatif yang menghubung-kan kata benda dengan kata benda, yaitu kata kepala sekolah dan seorang wanita muda berjilbab; sedangkan  atau digunakan untuk menunjukkan pilihan nama panggilan seperti digunakan untuk membuat perbandingan, yaitu:  Ibu Muslimah Hafsari atau bu Mus. namun merupakan konjungsi koordinatif yang menunjukkan arti berlawanan, digunakan untuk menunjukkan suatu yang berlawanan dengan kalimat sebelumnya dengan kalimat sesudahnya, yaitu: kalimat pertama mereka berdua tersenyum, dan kalimat kedua, senyum getir yang dipaksakan. Namun disini juga bermakna tetapi.  Sedangkan konjungsi   yang  membantu mempertegas kalimat selanjutnya, karena tampak  membantu dalam mempertegas isi kalimat selanjutnya.
Berdasarkan contoh data di atas peneliti ingin meneliti konjungsi dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang lebih dalam. Yang meliputi bentuk, fungsi, dan maknanya. Karena sepengetahuan penulis, konjungsi dalam novel Laskar Pelangi belum ada yang meneliti.
1.2  Batasan Masalah
Untuk  menghindari meluasnya  permasalahan  yang  akan  diteliti, maka  dalam  penelitian ini, peneliti  hanya  membatasi  pada 3 masalah, yaitu: 1). Bentuk  konjungsi  koordinatif, yang  terdiri  dari: dan,  atau, tetapi. 2). Fungsi  konjungsi, yang  terdiri  dari: konjungsi  berfungsi   menandai  hubungan  penambahan, konjungsi  berfungsi  menandai   hubungan  pilihan, dan  konjungsi  berfungsi  menandai  hubungan   perlawanan. 3). Makna  konjungsi, yang  terdiri  dari: makna  penambahan atau  penggabungan, makna  pemilihan, dan  makna  perlawanan, Pada  novel  Laskar  Pelangi  karya  Andrea Hirata  yang  terdiri  dari  3  bab, yaitu: 1). bab awal, yang  terdiri  dari: bab  1. Sepuluh  Murid  Baru, 2). Bab  tengah, yang  terdiri  dari: bab  17. Ada  Cinta  di  Toko  Kelontong Bobrok  Itu, 3). Bab  akhir, yang  terdiri  dari: bab  34. Gotik.
1.3  Rumusan Masalah
Masalah yang akan dikaji  dalam penelitian ini adalah:
  1. Bagaimanakah bentuk konjungsi dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata?
  2. Apa fungsi konjungsi dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata?
  3. Apa makna konjungsi dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata?

1.4  Tujuan Penelitian
      Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut ini.
  1. Untuk mendeskripsikan bentuk konjungsi dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.
  2. Untuk mendeskripsikan fungsi konjungsi dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.
  3. Untuk mendeskripsikan makna konjungsi dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

1.5  Manfaat Penelitian
  1. Bagi guru, Membantu guru bahasa Indonesia dan bagi para pemakai bahasa Indonesia untuk memahami dan mendalami tentang teori-teori konjungsi, baik itu dari segi bentuk, fungsi, dan maknanya.
  2. Bagi mahasiswa, Sebagai bahan rujukan bagi mahasiswa dalam mengkaji dan memahami teori-teori konjungsi.


Skripsi ini terdiri dari BAB I sampai dengan BAB V Full. Untuk pengunjung blog saya bisa ini yang ingin mendapatkan contoh skripsi ini sebagai bahan pembelajaran maupun referensi dalam  menyusun skripsi anda dapat menghubungi pengelola blog ini.

Analisis Gaya Bahasa Kiasan Pada Novel Ranah 3 Warna Karya Ahmad Fuadi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            Karya sastra merupakan hasil karya seni kreatif manusia yang objeknya adalah dirinya, orang-orang di sekitarnya dan kehidupannya, dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Semi, 1988 : 8). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa karya sastra dan masyarakaat tidak bisa dilepaskan, karena permasalahan yang terungkap dalam karya sastra adalah manusia dan aktivitasnya. Hal ini sejalan dengan ungkapan bahwa sastra adalah ungkapan perasaan masyarakat.
            Karya sastra diciptakan oleh pengarang atau sastrawan untuk dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan sebagai pencipta karya sastra jelas mengharapkan karya-karyanya dapat dinikmati oleh pembaca sastra, tidak hanya bermaksud pembaca mengetahui apa yang ia sampaikan lewat karyanya, tetapi pengarang juga ingin mengajak pembaca ikut merasakan apa yang dirasakan oleh pengarang.
            Sejalan yang dikemukakan oleh Fananie (2000 : 6), bahwa karya sastra yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan emosi yang spontan yang mampu mengungkapkan aspek estetik baik yang berdasarkan aspek kebahasaan maupun aspek makna. Refleksi perwujudan nilai estetik dalam suatu karya sastra jelas lebih jauh dari hanya sekedar keserasian, keutuhan, dan kegemilangan. Estetika harus mampu memberikan rasa puas dan senang, karena estetika tidak mungkin lepas dari rasa dan emosi.
Karya sastra yang berisi pemikiran, ide-ide, kisahan dan amanat penutur dapat berkomunikasi dengan peminat sastra, apabila mereka mampu mengapresiasikannya. Untuk dapat mengapresiasi karya sastra dengan baik pada diri peminat, tentulah harus ada keingintahuan yang tinggi terhadap karya sastra. Hal itu dapat dipupuk misalnya dengan menumbuhkan dan mengembangkan minat untuk mengenal dan menghayati secara intensif karya sastra itu. Upaya mengapresiasi (mengenal dan menghayati) karya sastra dapat ditempuh misalnya dengan menumbuhkan dan mengembangkan minat baca ataupun mendengarkan pembacaan karya sastra, peminat harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang cukup luas.
Salah satu bagian dari karya sastra adalah karya fiksi. Fiksi berasal dari kata “fiction” yang dalam kamus Hornby berarti rekaan, khayalan, cabang sastra yang meliputi cerpen, novel, dan roman. Sedangkan di Indonesia fiksi disebut dengan ”cerkan” (cerita rekaan). Ahmad (dalam Zulfahnur, 1996:24) mengemukakan bahwa cerkan adalah sebuah tulisan naratif yang timbul dari imajinasi pengarang yang tidak mementingkan segi fakta sejarah. Sejalan dengan pendapat diatas, Simposium (dalam Semi, 1988:31) mengatakan bahwa cerita rekaan yaitu cerita dalam prosa, hasil olahan pengarang berdasarkan pandangan, tafsiran, dan penilaianya tentang peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi, ataupun pengolahan tentang peristiwa-peristiwa yang hanya berlangsung dalam khayalannya. 
Novel merupakan hasil karya sastra yang membutuhkan tokoh cerita, alur, dan latar serta memerlukan gaya bahasa. Pemakaian gaya bahasa pada karangan yang bersifat sastra sangat penting, karena adanya suasana yang hidup, berjiwa estetis. Bahasa merupakan sarana yang terpenting dalam karya sastra, di dalam sebuah cerita seorang pengarang tentu berharap agar buah karyanya dapat dipahami dan dinikmati oleh pembacanya. Olah karena itu, tidak ada seorang pengarang pun yang tidak ingin menunjukan identitas karya-karya yang dihasilkanya, Setiap pengarang ingin dirinya dikenali karena karyanya.
           Di dalam imajinasinya, pengarang berupaya memilih kata-kata yang bagus dan baik untuk ditata didalam rangkaian kalimat yang sederhana. Ia memadukan kata-kata sehingga terdapat bahasa yang indah yang dapat menarik minat pembaca. Dengan kata lain, berhasil tidaknya bahasa pengarang justru tergantung dari kecakapannya mempergunakan gaya bahasa yang serasi dalam karya ciptaannya.
Dari uraian di atas dapat dinyatakan bahwa gaya bahasa merupakan pembawaan pribadi, melalui gaya bahasa pengarang hendak memberikan bentuk terhadap apa yang dipaparkannya. Jadi secara tidak langsung gaya bahasa menggambarkan sikap dan karakteristik seorang pengarang dalam setiap karya yang diciptakannya
Salah satu karya sastra atau karya fiksi yang dapat dianalisis adalah novel. Novel merupakan wujud pengarang untuk mengungkapkan segala permasalahan yang terjadi, baik kejadian yang dialami dirinya sebagai pengarang maupun kejadian yang dialami orang lain diluar pengarang.
Dalam penelitian ini penulis mengambil novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi, terbitan PT Gramedia Pustaka Utama sebagai bahan untuk dianalisis. Novel ini merupakan salah satu karya fiksi yang mendapatkan perhatian dari kalangan pengamat sastra. Melalui novel Ranah 3 Warna yang berkualitas ini, semakin mengukuhkan peran Ahmad Fuadi dalam penulisan fiksi Indonesia. Kepiawaian Ahmad Fuadi dalam mengarang tampak dalam struktur cerita-ceritanya, gaya bahasa dan  ide-idenya  yang  mengalir secara santai di hadapan mata batin kita.
Penelitian kali ini, penulis mencoba mengkaji gaya bahasa kiasan dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi. Dilihat dari judul, novel ini sudah menunjukan daya tarik tersendiri. Dikatakan demikian, karena pada umumnya judul sebuah karya sastra tidak berupa pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan. Akan tetapi, Ahmad Fuadi dengan kreatifitas yang dimilikinya, berusaha menghadirkan sebuah karya yang memberikan nilai tersendiri kepada pembaca. Kandungan pertanyaan pada judul, cukup menarik perhatian pembaca, sehingga dapat menimbulkan rasa ingin tahu pada setiap pembaca. Dengan demikian, judul novel merupakan salah satu daya tarik penulis meneliti novel ini.   
Sebagai seorang pengarang, Ahmad Fuadi ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa yang ditulisnya berkaitan dengan kejadian dalam kehidupan sehari-hari, baik kejadian dalam keluarga, pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, kabar biasa atau kabar mengejutkan yang dapat disuguhkannya menjadi sebuah cerita fiksi, dengan penggunaan gaya bahasa yang dimengerti sekaligus diberi keindahan dan pemikiran seperti dalam novelnya yang berjudul Ranah 3 Warna. Selain itu, Ahmad Fuadi juga mendapatkan penghargaan nominasi khatulistiwa literary award 2010, serta Penulis dan Fiksi terfaforit, Anugerah Pembaca Indonesia 2010, dan National Best Seller.
Novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi ini menyajikan cerita dengan gaya bahasa yang indah. Berdasarkan pembacaan awal, gaya bahasa yang banyak digunakan pengarang adalah gaya bahasa kiasan. Adapun contoh gaya bahasa kiasan yang terdapat dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi ini adalah sebagai berikut:

Amak yang duduk ditengah seperti induk ayam yang meneduhi anak-anaknya yang kuyu kehujanan. Safya si bungsu yang sangat lengket dengan ayah terus memegang lengan ayah, air matanya melimbak-limbah membentuk sungai kecil yang seakan-akan tidak mau putus dan tidak ingin kering. . (R3W:95). 

Ini merupakan ungkapan rasa kesedihan yang sangat dalam yang dirasakan oleh Alif atas meningalnya ayahnya.

Setiap tetes dingin hujan terasa menghujam kulitku. Aku berlari menyeret kakiku melintas jalan setapak yang dikelilingi belukar menuju jalan besar. (R3W:120)

Ini merupakan ungkapan keteguhan hati Alif dalam mengarungi perjalanan hidup yang  dijalaninya.
Berdasarkan hal di atas, penulis perlu mengungkapkan hal yang berkenaan dengan gaya bahasa kiasan tersebut. Melalui kajian gaya bahasa ini diharapkan dapat diungkapkan secara persis bentuk gaya bahasa kiasan yang digunakan pengarang.
1.2  Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah jenis gaya bahasa kiasan yang digunakan dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi. Sekaligus untuk mengetahui fungsi gaya bahasa kiasan dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi. Novel ini diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama yang merupakan buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara tahun 2011 sebanyak 473 halaman.
1.3  Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah
  1. Gaya bahasa kiasan apa saja yang terdapat dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi?
  2. Bagaimanakah fungsi gaya bahasa kiasan dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi?

1.4  Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah
  1. Menganalisis gaya bahasa kiasan yang terdapat dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi
  2. Menjelaskan fungsi gaya bahasa kiasan dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi

1.5  Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
  1. Membantu guru bahasa dan sastra Indonesia dalam kegiatan pengajaran sastra  dengan menjadikan hasil penelitian ini sebagai salah satu sumber pengetahuan dan materi mengajar sastra
  2. Menambah wawasan pembaca mengenai aspek gaya bahasa kiasan dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi


Skripsi ini terdiri dari BAB I sampai dengan BAB V Full. Untuk pengunjung blog saya bisa ini yang ingin mendapatkan contoh skripsi ini sebagai bahan pembelajaran maupun referensi dalam  menyusun skripsi anda dapat menghubungi pengelola blog ini.

Analisis Nilai-Nilai Nasionalisme Pada Novel Garuda Di Dadaku Karya Salman Arito

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Setelah berhasil mempertahankan kemerdekaan,  persoalan nasionalisme di Indonesia tidak berhenti begitu saja. Demikian juga dalam sastra Indonesia. Nasionalisme bergeser kembali dalam bentuk wacana, karena pengaruh perubahan global, nasionalisme mengalami perubahan penafsiran. Dunia global  yang memaksa setiap individu dalam Negara merekonstruksi kembali Nasionalisme (Tamba, 2008:1). Sedangkan menurut Mangunwijaya (dalam Tamba, 2008:1) sebagai sastrawan memunculkan persoalan-persoalan baru dalam Nasionalisme tersebut melalui kedua novelnya, yaitu “Burung-Burung Manyar (1983) dan Burung-Burung Rantau (1993) menawarkan pemikiran-pemikiran tentang nasionalisme”. Namun sekarang ini ikatan nasionalisme tumbuh di tengah  masyarakat  saat pola fikirnya mulai merosot. Ikatan  ini terjadi saat manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tidak beranjak dari situ (Tamba, 2008:1).
Menurut Ricklefs, (2001:1) peran nasionalisme ini bukan sebagai satu paham yang harus mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan cara
mewujudkan suatu konsep, melainkan terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. Kerukunan antar umat beragama dan kepedulian masyarakat bangsa terhadap kemiskinan itu adalah salah satu contoh peran nasionalisme yang harus kita rasakan ini. Tapi disisi lain, masalah demi masalah yang timbul pada bangsa yang terus menjadi-jadi, disebabkan karena kurangnya rasa nasionalisme.
Kurangnya rasa nasionalisme ternyata membawa dampak atau pengaruh yang cukup besar terhadap keutuhan bangsa. Seperti halnya penurunan moral pemuda sebagai generasi penerus bangsa yang disebabkan oleh kurangnya apresiasi dan penghayatan perjuangan para tokoh sehingga terlena dengan kemerdekaan serta pengaruh dari hilangnya spirit kemerdekaan di dalam jiwa generasi muda adalah pemerintah dalam menumbuhkan sikap Cinta Tanah Air lewat pendidikan fisik, terutama  melalui  pendidikan sejarah. Hal ini terlihat dari pendapat Kartinah (2010:1).
“Salah satu contoh bahwa kata nasionalisme hanya sekedar ucapan belaka, dan tidak ada penerapan sama sekali: (1). Para pemuda-pemudi tidak ada lagi gairah untuk membangun negeri ini (2). Kehidupan individualis masyarakat yang sangat terlihat sekali di perkotaan, sehingga selogan fraternite yang artinya persaudaraan sudah tidak terlihat dan yang terakhir, di tambah denga Negeri kita sendiri yang tidak lagi menjadi tuan untuk rumah sendiri, yang seperti halnya barang-barang hampir semuanya produk luar negeri baik itu barang-barang kecil ataupun besar”.
Jadi kurangnya rasa nasionalisme itu membawa dampak buruk yang cukup besar dan itu mempengaruhi kesatuan dan kedaulatan bangsa, sehingga begitu pentingnya rasa nasionalisme pada masyarakat agar terciptanya masyarakat adil dan makmur. Rasa nasionalisme yang tinggi dan perjuangan terhadap bangsa Indonesia sangat mempengaruhi tingkat kesejahteraan rakyat, selain itu tanpa adanya rasa nasionalisme terhadap bangsa, maka nasib bangsa Indonesia akan terancam. Raharja (2009:1) menyatakan:
“Kondisi Nasionalisme suatu bangsa akan terpancar dari kualitas ketangguhan pada bangsa tersebut dalam menghadapi berbagai ancaman. Dengan nasionalisme yang tinggi, kekhawatiran akan terjadinya ancamanan terhadap keutuhan dan kesatuan bangsa jiwa patriotisme tidak mungkin ada. Namun ada juga cara lain untuk membangkitkan nasionalisme, yaitu: 1) Yang harus dilakukan adalah membentuk karakter dan mental Nasionalisme kita untuk menolak segala permainan uang berserta paradigmanya, yang merugikan rakyat. 2) Membentuk atau mewujudkan suatu organisasi dan pergerakan yang berkarakter, tegas bahwa radikal dalam menolak dan melawan segala bentuk permainan uang dan segala yang akan menciptakan disetigrasi di Negara kita, karena perjuangan melawan segala bentuk imperialisme adalah sebuah perjuangan yang global dan universal”.
Salah satu jenis karya sastra yang diciptakan oleh seorang sastrawan adalah novel. Jasin (1982:70) menyatakan: “Novel menceritakan tentang suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang terlahir konflik suatu pertikaian yang mengalahkan nasib mereka”.
Novel merupakan salah satu media bagi pengarang untuk mengungkapkan segala permasalahan yang sedang terjadi, baik kejadian dialami oleh dirinya sebagai pengarang maupun kejadian yang dialami oleh orang di luar diri pengarang.
Dalam karya sastra fiksi, biasanya pengarang ingin menyampaikan suatu pesan atau nilai yang terkandung di dalam suatu novel dengan tujuan untuk memberikan suatu semangat yang digambarkan oleh si pengarang. Sehingga pembaca mampu mengetahui makna yang terkandung didalamnya.
Salah satu karya yang memiliki nasionalisme kenegaraan terdapat pada novel Garuda di Dadaku karya Salman Aristo. Karya tersebut merupakan karya kedua dari Trilogi Garuda di Dadaku yang merupakan sebuah novel yang berceritakan tentang persahabatan yang baik, imajinatif dan menarik yang memiliki unsur nilai nasionalisme terhadap bangsa Indonesia. Karya sastra ini telah diangkat dalam layar lebar yang merupakan suatu seni yang berkembang amat pesat di dunia hiburan.
Dengan melihat sifat nasionalisme kenegaraan yang digambarkan oleh pengarang pada novel ini jelas terlihat pada judul yang diangkat oleh pengarang yaitu Garuda di Dadaku, dimana pengarang juga melampirkan sesuatu lirik lagu yang bertema Nasionalis yang berjudul sama dengan judul novel yang diangkat oleh pengarang yaitu Garuda di dadaku karya group band Netral. Namun pada kenyataannya lirik “Garuda di Dadaku” digubah oleh Ferry Indrasjarief, ketua The Jakmania yang saat itu, menjabat sebagai asisten manajer Persija. Kemudian vokalis dan bassis Netral, Bagus Dhanar Dhana, menambahkan beberapa lirik pada awal aransemen. Sementara notasi lagunya sendiri disinyalir diadaptasi dari lagu “Apuse” yang nota bene adalah folk song dari Papua.  (Aristo, 2009:142)
“Reff: Garuda di Dadaku
Garuda kebanggaanku
Kuyakin hari ini pasti menang …
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan keinginanmu
Ku yakin hari ini pasti menang …”
Melihat sifat nasionalisme kenegaraan yang digambarkan pengarang pada novel Garuda di Dadaku, pengarang mampu menggambarkan semangat dan cintanya terhadap Indonesia yang dituliskan dalam sebuah karyanya oleh pengarang dalam novel Garuda di Dadaku. Dengan bangkitnya semangat nasionalisme bangsa Indonesia saat ini, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu menunjukkan kecintaannya terhadap bangsa dan Negara Indonesia. Salah satunya dunia persepak-bolaan Indonesia yang tengah bangkit dan maju di dunia Internasional.
Dengan melihat sifat nasionalisme inilah yang mendorong peneliti untuk menganalisisnya. Karena novel ini mampu memberi semangat dalam meraih mimpi, serta memiliki suatu cerita yang inspiratif dan menarik untuk dibaca oleh penikmat karya sastra. Novel ini bertemakan kecintaan terhadap dunia persepak-bolaan Indonesia yang sudah jarang ditemukan di dunia kesastraan, sehingga peneliti memilih novel ini untuk dipilih sebagai objek penelitian dan sepengetahuan penulis novel ini belum pernah diteliti.
1.2  Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah nasionalisme kewarganegaraan, etnis, budaya, dan kenegaraan. Namun dalam hal ini, peneliti hanya membatasinya pada nilai-nilai nasionalisme kenegaraan si penulis, yang tergambar pada tokoh cerita yang terdapat pada novel Garuda di Dadaku karya Salman Aristo.
1.3  Rumusan Masalah
Bagaimana nilai-nilai nasionalisme kenegaraan yang tedapat pada novel  Garuda di Dadaku karya Salman Aristo?
1.4  Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian  ini  untuk mendeskripsikan nilai-nilai Nasionalisme kenegaraan yang terdapat dalam novel Garuda di Dadaku karya Salam Aristo.
1.5  Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk:
  1. Memberikan informasi dan wawasan tentang nasionalisme kenegaraan,  khususnya untuk mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
  2. Agar mahasiswa dapat mencontoh dan meneladani nilai-nilai yang dianggap baik dalam novel Garuda di Dadaku karya Salam Aristo.
  3. Penelitian ini dapat memberikan masukan bagi penelitian yang sejenis terutama yang berhubungan dengan nilai-nilai nasionalisme.
  4. Bagi peneliti sendiri, penelitian ini sangat bermanfaat sekali terutama dalam meningkatkan semangat nasionalisme terhadap bangsa.


Skripsi ini terdiri dari BAB I sampai dengan BAB V Full. Untuk pengunjung blog saya bisa ini yang ingin mendapatkan contoh skripsi ini sebagai bahan pembelajaran maupun referensi dalam  menyusun skripsi anda dapat menghubungi pengelola blog ini.

Analisis Gaya Bahasa Pada Novel Bumi Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sama dengan karya seni yang lain, karya sastra merupakan suatu karya yang artistik. Karya sastra dan karya seni lainnya juga hasil dari imajinasi yang dituangkan penciptanya dalam berbagai bentuk karya sebagai karya yang bernilai estetis atau mengandung keindahan pada unsur-unsur pembentuknya. Suatu bentuk artistik dalam karya sastra terdapat pada unsur bahasa yang digunakan pengarang yang diciptakan dengan unsur kebahasaan yang beragam.
Dengan adanya nilai-nilai artistik pada karya sastra maka akan menarik minat pembaca dalam menikmati suatu karya sastra. Para pembaca akan merasakan seolah-olah berada dalam karya tersebut dengan imajinasi yang diceritakan pengarang. Dengan gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam karyanya membuat para pembaca juga tidak merasa jenuh.
Karya sastra merupakan perwujudan dari pengamatan pengarang tentang realitas kehidupan. Realitas kehidupan tersebut dapat berupa pemikiran keadaan dan kehidupan sosial suatu masyarakat, peristiwa:peristiwa, ide dan gagasan, serta nilai-nilai yang diamanatkan pencipta lewat tokoh-tokoh cerita. Dengan demikian, melalui karya sastra pembaca dapat memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang manusia, dunia, dan kehidupan.
Karya sastra lahir tidak bisa dilepaskan dari pengarangnya dan sebaliknya, pengarangpun tidak bisa pula terlepas dari keadaan dan kenyataan yang ada disekitarnya, untuk mengetahui hal itu, kita perlu menelaah karya sastra tersebut. Gaya atau style pengarang akan mewarnai karya yang dihasilkannya. Dalam karya sastra, gaya pengarang tersebut dikenal sebagai unsur gaya bahasa. Gaya bahasa adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa atau bagaimana cara pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan (Nurgiyantoro, 2010:276).
Salah satu jenis dari karya sastra adalah karya fiksi. Fiksi berasal dari kata ”fictio atau fictum”  yang berarti membentuk, membuat, mengadakan dan mencipta ( Tarigan dalam Elyusra, 2007). Secara umum karya fiksi dibedakan atas tiga macam bentuk yang meliputi cerita pendek (cerpen), novel, dan roman. Pembagian ini didasarkan pada kompleksitas isi dan struktur karya tersebut.
Novel menceritakan kehidupan yang terjadi dalam masyarakat seperti masalah sosial yang tercakup didalamnya masalah agama, adat istiadat, pendidikan, ekonomi, politik, dan lain-lain. Pada aspek sarana pengucapannya, cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas, plot yang kompleks, karakter yang banyak, tema yang kompleks. Setiap pengarang senantiasa mengembangkan unsur-unsur pembangun karya sastra tersebut secara maksimal.
Pengarang novel kesusastraan Indonesia salah satu diantaranya yaitu  Habiburrahman El Shirazy atau Kang Abik yang selalu menyajikan karya-karya sastra yang menggugah jiwa pembaca dan memberi begitu banyak pencerahan kepada pembaca untuk berupaya menjadi insan yang lebih baik. Pengarang menyuguhkan cerita dengan bahasa yang membuat pembaca tertarik untuk membaca tiap lembar yang ada.
Salah satu karya Kang Abik adalah novel yang berjudul Bumi Cinta. Novel yang berjudul Bumi Cinta (selanjutnya disingkat BC) ini masih merupakan novel dengan kisah romansa religius yang tetap mengusung predikat sebagai novel pembangun jiwa, sebagaimana novel-novel Kang Abik sebelumnya yaitu Ayat-Ayat Cinta (AAC) dan Ketika Cinta Bertasbih (KCB).
Berbeda dengan novel sebelumnya AAC yang bersetting di Mesir, kali ini Kang Abik mencoba mengeksplorasi keindahan bumi Rusia, khususnya kota Moskow. Pengarang menceritakan seorang pemuda Indonesia bernama Muhammad Ayyas, seorang mahasiswa pascasarjana di Delhi, India yang juga seorang santri. Muhammad Ayyas yang sebelumnya kuliah di Madinah ini berniat ingin mengerjakan tugas penelitian dari Dosen pembimbingnya yaitu mengenai kehidupan umat islam di Rusia pada masa pemerintahan Stallin.
Di Rusia Muhamad Ayyas disambut oleh teman lamanya Devid. Devid inilah yang mencarikan apartemen tempat tinggal untuk Ayyas. Dengan alasan keterbatasan uang yang dimiliki Ayyas dan lokasi apartemen yang strategis ternyata Devid hanya bisa mendapatkan sebuah apartemen yang berbagi dengan orang lain. Teman seapartemennya adalah dua orang wanita Rusia yang jelita.
Tidak ada konflik yang sedemikian hebat dalam kisah ini sebagaimana kita temui pada sosok Fahri pada novel AAC yang sempat masuk penjara di Mesir, atau tokoh Furqon pada novel KCB  yang sempat terkena virus HIV. Di sini tokoh Ayyas hanya hampir dipenjara karena difitnah melakukan pengeboman di Hotel Metropole oleh Linor.
Kisah ini juga dilengkapi dengan peristiwa pembantaian Zionis terhadap muslim Palestina di Sabra dan Sathila. Nuansa romansa memang terasa sangat kental di sini. Tiap halaman akan kita jumpai gejolak perasaan Ayyas atas wanita-wanita jelita yang dijumpainya.
Pada akhir cerita novel ini membuat pembaca harus menyimpulkan sendiri apa yang terjadi pada tokoh Ayyas. Karena pengarang tidak menyampaikan langsung akhir dari cerita. Sehingga akhir cerita diserahkan kepada pembaca.
Berdasarkan hasil pembacaan awal oleh peneliti, kisah di atas dituturkan pengarang dengan gaya bahasa yang dapat meneteskan air mata, tersenyum bahagia, rasa yang penuh amarah, perasaan kesal dan bingung pun akan terekspresi oleh pembaca. Seperti pada kutipan novel BC ini:
“ Saya Muhammad Ayas. Mahasiswa dari Indonesia” Jawab Ayas.
“ Pasti Muslim,”
“ Benar”
                  “ Ternyata  benar,  banyak  sekali  penganut  agama primitif itu.” Desis
                     Linor   dengan   nada   mencela.   Kata:kata   Linor   membuat   Ayas
                     tersentak bagai disengat kalajengking. (BC:54)
                       
“ Hanya  kepalanya  yang   nampak  sesekali  menggeleng  ke  kiri  dan 
ke  kanan  seolah  mengiringi  suara  mobil  tua  yang sesekali seperti
meraung dan terbatuk batuk” (BC:15).
                       
“ Stasiun itu seumpama istana di bawah tanah” (BC:65)

Gaya bahasa pada kutipan di atas  menggunakan gaya bahasa kiasan persamaan atau Simile yaitu perbandingan  yang bersifat eksplisit bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Pada kutipan (BC:54) membandingkan dengan langsung antara kata-kata yang diucapkan oleh Linor itu bahwa muslim adalah agama primitif lalu Ayas tersentak bagai disengat kalajengking. Kata tersentak sama artinya dengan 1.tertarik kuat-kuat;tercababut, 2.terbangun atau tersadar tiba-tiba (dari tidur, lamunan, dan lain sebagainya) karena terkejut ketika disengat oleh binatang kalajengking (Depdikbud, 2007:1039).
Pada kutipan (BC:15) terdapat perbandingan secara langsung antara kata seperti meraung dan terbatuk-batuk dengan seseorang yang sudah tua yang terkena penyakit tua. Pada kutipan (BC:56) membandingkan secara langsung kata seumpama istana di bawah tanah dengan sesuatu yang megah dan indah yang terdapat di bawah tanah.
Gaya bahasa kiasan persamaan atau simile pada kutipan di atas dengan baik dapat menjalankan fungsinya sebagai ekspresi pribadi penulisnya dalam menghadapi dan menyikapi pokok masalah dengan mengelola kata-kata dengan penggunaan bahasa yang menggambarkan atau melukiskan sesuatu.
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa unsur gaya bahasa novel Bumi Cinta merupakan unsur yang kompleks karena menyuguhkan bahasa yang variatif yang menarik minat pembaca. Makna karya tersebut dapat diperoleh pembaca apabila pembaca dapat memahami gaya bahasa yang digunakan pengarang, oleh sebab itu kajian terhadap pemakaian gaya bahasa dalam karya sastra tersebut merupakan suatu hal yang penting dilakukan.

1.2  Batasan Masalah
Batasan masalah penelitian ini pada aspek bahasa (stilistika) yang merupakan bagian dari linguistik yang mengkaji wacana sastra, memusatkan perhatiannya pada variasi penggunaan bahasa dan mengkaji cara sastrawan memanipulasi dengan arti memanfaatkan unsur dan kaidah yang terdapat dalam bahasa dan efek apa yang ditimbulkan oleh pengguna itu. Cakupan stilistika yaitu diksi, struktur kalimat, majas (gaya bahasa), citraan, pola rima, mantera yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam karya sastra (Sudjiman, 1993:13:14).
Berdasarkan pembacaan awal yang telah penulis lakukan, aspek gaya bahasa yang menarik untuk dikaji adalah pemanfaatan majas (gaya bahasa) yang dipilih pengarang untuk mewakili maksud dan tujuan pengarang. Dengan demikian, penelitian ini dibatasi pada pemakaian majas (gaya bahasa) yang terdapat dalam karya dimaksud khususnya pada gaya bahasa kiasan.
1.3  Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang dikemukakan di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah:
1. Jenis gaya bahasa kiasan apa sajakah yang digunakan oleh pengarang pada novel Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy?
2. Bagaimanakah fungsi gaya bahasa kiasan yang digunakan oleh pengarang pada novel Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy?
1.4  Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang tepat, rinci, dan mendalam tentang :
1.      Pendeskripsian jenis gaya bahasa kiasan yang digunakan oleh pengarang pada novel Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy.
2.      Pendeskripsian fungsi gaya bahasa kiasan yang digunakan oleh pengarang pada novel Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy.
1.5  Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:
1. Masyarakat peminat sastra dalam memahami atau menginterpretasi karya sastra, khususnya melalui pengkajian unsur gaya bahasa yang digunakan pengarang.
2. Peneliti lain, sebagai pembanding dalam melanjutkan atau membahas sisi lain dari novel Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy.
3.  Memberi masukan kepada guru atau calon guru bahasa Indonesia dalam memberikan pelajaran apresiasi sastra, khususnya yang berhubungan dengan gaya bahasa.

Skripsi ini terdiri dari BAB I sampai dengan BAB V Full. Untuk pengunjung blog saya bisa ini yang ingin mendapatkan contoh skripsi ini sebagai bahan pembelajaran maupun referensi dalam  menyusun skripsi anda dapat menghubungi pengelola blog ini.